Mengetahui cara submit artikel ke jurnal terasa seperti masuk server game tanpa tutorial. Banyak pintu, banyak aturan, dan salah langkah sedikit bisa bikin artikel mental. Padahal, publikasi ilmiah punya peran vital dalam karier akademik, pencapaian riset, hingga peningkatan reputasi seorang peneliti. Tidak heran proses pengiriman artikel ke jurnal sering membuat orang stres karena mereka tidak memahami alurnya. Jika kamu berada di posisi ini, santai dulu.

Artikel ini akan membongkar proses lengkap pengajuan artikel ilmiah secara sistematis mulai dari persiapan, proses submit, hingga trik agar peluang diterima lebih besar. Setelah memahami alur ini, kamu tidak akan lagi merasa tersesat setiap kali berhadapan dengan OJS, sistem reviewer, atau template jurnal yang terlihat seperti puzzle tanpa petunjuk.

Mengapa Memahami Cara Submit Artikel ke Jurnal Itu Penting

Peneliti yang paham alur pengajuan memiliki peluang publikasi lebih tinggi. Selain itu, mereka mampu menyesuaikan format penulisan, memahami etika akademik, dan menyusun naskah sesuai standar editorial.

Sebaliknya, banyak penulis gagal bukan karena risetnya buruk, tetapi karena mereka mengabaikan langkah teknis submit artikel. Pemahaman menyeluruh tentang proses ini menghemat waktu, tenaga, dan mental kamu.

Memahami cara submit artikel ke jurnal membantu kamu menghindari revisi berkali-kali, mempercepat proses publikasi, dan meningkatkan reputasi riset. Jadi, bukan sekadar mengunggah file lalu berharap diterima.

Menentukan Jurnal yang Tepat untuk Artikel Ilmiah

Penulis sering tergoda mengirim artikel ke jurnal sembarangan dengan harapan cepat terbit. Itu seperti memancing hiu pakai roti tawar. Tidak nyambung. Memilih jurnal yang tepat membutuhkan analisis kesesuaian tema, scope, indeksasi, dan reputasi penerbit. Jurnal bereputasi seperti Sinta, Scopus, atau WoS punya standar yang ketat. Jika artikelmu tidak match dengan focus jurnal, editor langsung mencoret tanpa memikirkan isi risetmu.

Kamu harus membaca aims jurnal, memeriksa gaya template, hingga memastikan metodologi penelitianmu selaras dengan karakter jurnal. Langkah ini jadi pondasi sebelum submit artikel agar proses tidak berakhir tragis.

Proses Cara Submit Artikel ke Jurnal Melalui OJS

Platform OJS menjadi pintu utama pengiriman artikel ilmiah digital. Jika belum pernah menggunakannya, UI OJS mungkin terlihat seperti panel kontrol pesawat. Penuh tombol yang bikin bingung. Padahal, OJS berjalan sistematis sejak pendaftaran sampai artikel diterima.

Proses teknis submit artikel membutuhkan akun, unggahan naskah sesuai format, pernyataan etika, metadata lengkap, dan kelengkapan lampiran. Jika metadata kacau atau file tidak sesuai template, editor bisa melakukan desk reject hanya dalam beberapa menit. Kamu perlu memahami proses ini dengan benar agar tidak buang waktu.

1. Memahami Template dan Gaya Selingkung

Setiap jurnal punya gaya selingkung yang unik. Ada yang pakai APA, ada yang pakai IEEE, ada juga yang kombinasi keduanya seperti makanan fusion. Jangan berimprovisasi ketika jurnal sudah memberi template. Editor senang pada penulis yang taat format. Mereka tidak ingin buang waktu menertibkan format naskah. Kamu harus memastikan sitasi, daftar pustaka, margin, hingga jenis font sesuai template sebelum submit.

2. Mendaftarkan Akun dan Mengisi Metadata Artikel

Setelah template beres, daftar akun di OJS. Metadata jadi data penting untuk memudahkan indexing dan mesin pencari menemukan risetmu. Metadata yang lengkap memperkuat SEO akademik sehingga artikelmu belum terbit pun sudah terlihat potensial. Kamu mengisi judul, abstrak, kata kunci, referensi, dan identitas penulis. Kesalahan metadata membuat sistem dan editor malas memproses artikelmu.

3. Mengunggah Naskah dan Dokumen Pendukung

Unggah file artikel dalam format yang ditentukan jurnal. Sertakan dokumen etik, cover letter, dan hasil plagiasi jika diminta. Sistem OJS mengharuskan beberapa file terpisah. Jangan mengunggah secara asal. Kesalahan kecil seperti nama file acak bisa jadi bumerang.

4. Menunggu Proses Review Peer Reviewer

Review jadi arena gladiator akademik. Artikelmu diuji dari semua sudut. Bedanya, lawannya bukan singa, tetapi reviewer yang kritis dan detail. Jika editor meminta revisi, tanggapi dengan elegan. Revisi bukan bencana, tapi bukti artikelmu dianggap punya potensi.

5. Finalisasi, Copyediting, dan Publikasi

Setelah lolos review, artikelmu masuk tahap polishing. Tahap ini memastikan tulisanmu rapi, valid secara ilmiah, dan layak dipublikasikan. Kamu akan menerima jadwal terbit dan DOI. Pada titik ini, peneliti bisa bernapas lega karena artikel sudah resmi masuk panggung publikasi.

Kesalahan Fatal yang Membuat Artikel Ditolak Editor

Banyak penulis fokus pada teori, tetapi mengabaikan proses teknis. Kesalahan yang sering terjadi yaitu minim referensi mutakhir, plagiasi tinggi, tidak sesuai scope jurnal, dan bahasa yang amburadul. Editor bukan musuhmu. Mereka menjaga kualitas jurnal. Kalau artikelmu kacau, ya jelas mereka menolak.

Kamu harus menghindari improvisasi berlebihan, malas mengikuti pedoman jurnal, dan memilih jurnal hanya karena ingin cepat publish. Itu sama dengan nembak gebetan tanpa kenalan dulu. Ya ditolak.

Strategi Tingkat Lanjut Agar Artikel Cepat Diterima

Menulis artikel bukan sekadar menulis. Kamu perlu membangun narasi ilmiah yang kuat, referensi terkini, struktur logis, dan data valid. Manfaatkan alat sitasi seperti Mendeley, gunakan referensi lima tahun terakhir, dan sertakan novelty yang jelas. Editor menyukai artikel yang memuat solusi, bukan sekadar ulasan.

Kamu bisa menganalisis artikel yang sudah terbit pada jurnal target untuk memahami gaya penulisan dan arah riset. Langkah ini meningkatkan peluang mu meraih publikasi lebih cepat.

Kesimpulan

Cara submit artikel ke jurnal bukan hal misterius. Prosesnya jelas, berurutan, dan dapat kamu kuasai jika memahami alurnya. Memilih jurnal yang tepat, mengikuti template, mengisi metadata, dan menghormati etika akademik menjadi kunci sukses publikasi ilmiah. Jika kamu mengikuti langkah ini, peluang artikelmu diterima meningkat drastis. Pada akhirnya, publikasi bukan soal keberuntungan, tetapi soal kesiapan.


FAQ

Apa saja yang diperlukan sebelum submit artikel ke jurnal?
Kamu perlu template jurnal, metadata, daftar pustaka, dokumen etika, dan hasil pengecekan plagiasi. Semua komponen ini memengaruhi keputusan editor menerima atau menolak artikel.

Berapa lama proses review artikel di jurnal?
Durasinya bervariasi. Ada jurnal yang memeriksa artikel selama satu bulan, ada juga yang memakan waktu enam bulan tergantung antrean dan jumlah reviewer yang tersedia.

Apakah boleh submit artikel ke lebih dari satu jurnal secara bersamaan?
Tidak boleh. Itu pelanggaran etika publikasi. Artikel hanya boleh dikirim ke satu jurnal sampai ada keputusan editor. Jika melanggar, kamu bisa masuk daftar hitam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *